Selasa, 26 Februari 2013

Maira Vs Naira

Kembar harus saling rukun. Itulah yang sering dikatakan mama kepada Maira dan Naira, sepasang saudara kembar yang selalu rukun. Tapi, sepertinya Maira dan Naira tidak bisa dikatakan selalu rukun. Maira dan Naira mempunyai tingkat kepintaran yang sama. Nah, inilah yang menjadi masalh! Suatu hari, Bu Jingga membagikan hasil ulangan Matematika. Banyak murid yang nilai nya dibawah enam.
Aku pasti nilainya sama seperti Naira, kata Maira dalam hati.
Aku pasti nilainya sama seperti Maira, kata Naira dalam hati.
Maira dan Naira memang duduk sebangku, saling berpandangan dan tersenyum. Sekarang, giliran Naira dan Maira yang menerima hasil ulangan Matematika. Mata Naira terbalalak kaget saat melihat nilai nya Sembilan puluh delapan, sementara hasil ulangan Maira nilainya Seratus!
Maira tersenyum penuh kemenangan kepada Naira.
“Ternyata, sejak dilahirkan, aku lebih pinta darimu,” kata Maira sombong. Naira terbelalak marah kepada Maira .
“Huh! Siapa yang peduli! Hanyak beda dua nilai saja kok!” cibir Naira kepada Maira yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Maklum, selama ini nilai mereka tidak pernah beda. Kecuali sekarang ini!
Naira betul–betul memikirkan nilainya yang lebih randah dari Maira. Naira tidak bisa berkonsentrasi saat bu Jingga menerangkan Matematika tentang Asosiatif dan Distributif. Sedangkan Maira, terus tersenyum dari awal sampai akhir pelajaran.
Sekarang, pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Pelajaran favorit Naira. Bu Endah membagikan hasil ulangan IPA tiga hari yang lalu. Naira tidak terlalu yakin, apakah nilainya bisa melampaui nilai Maira? Saat Naira menerima hasil ulangan dia girang sekali melihat nilainya seratus, sedangkan Maira Sembilan puluh tiga.
“Ehm .. sejak dilahirkan, sepertinya aku yang lebih pintar, bukan kamu yang lebih pintar. Karena aku KAKAK!” sindir Naira kepada Maira. Maira mencibir kesal kepada Naira.
“Pokoknya aku lebih pintar daripada kamu!” Titik!” kata Maira.
“Bukan! Aku yang lebih pintar!” teriak Naira. “Kamu salah! Meskipun aku adik, aku lebih pintar darimu! Kamu hanya sebutir debu kecil!” ejek Maira kepada Naira.
“Apa kamu bilang?!?! Aku sebutir DEBU KECIL!!! Kamu sendiri Cuma setengah butir debu kecil wleee :p !!” Balas Naira mengejek Maira.
Maira dan Naira terus berteriak–teriak tanpa sadar kalau mereka sedang bertengkar di kelas.
“Stop! Stop!” lerai bu Endah. Tapi Maira dan Naira tidak mendengarkannya karena asik jambak–jambakan dan teriak–teriak.
“STOOP!!!” lerai Bu Endah lagi. Kali ini, teriakan Bu Endah benar–benar memekakan telinga. Maira dan Naira pun langsung berhenti bertengkar.
“Maira! Bersihkan toilet lantai satu! Naira! Bersihkan toilet lantai dua! Dan yang tadi ikut–ikutan berteriak, bersikan toilet lantai tiga! SEKARANG !!!” perintah BU Endah.
Bu Endah memang terkenal sebagai guru yang jutek , killer dan galak. Maira berlari menuju toilet lantai satu, Naira menuju toilet lantai dua dan yang ikut teriak–teriak tadi, si kembar Dania dan Danu, meuju toilet lantai tiga.
“Huh! Ini semua gara-gara Maira! Aku enggak mau bersaudara dengannya!” rutuk Naira sambil menggosok lantai toilet dengan karbol lantai beraroma jeruk.
“Uuuh! Naira tidak pantas jadi kakak! Pokoknya, aku lebih pintar dari Naira!” gerutu Maira sambil menyirami lantai toilet dengan air.
“Ini semua gara-gara kamu Danu! Kita jadi disuruh bersihin toilet bau ini!” tuduh Dania kepada Danu yang sama-sama sedang membersihkan bak air.
“Yeee! Memangnya siapa yang ngajak teriak-teriak?” balas Danu kepada Dania.
Akhirnya, di toilet lantai tiga, Dania dan Danu saling teriak. Oh ya, toilet disini memang dipisahkan antara laki laki dan perempuan. Tapi, dipisah memakai pintu tipis yang tidak bening. Jadi, tetap bisa mendengar suara orang di toilet sebelah.
Maira dan Naira sama sama merengut dan tidak mau saling pandang di dalam mobil.
“Oh, iya!” seru Maira saat teringat sesuatu, “Mama pernah bilang, kalau kembar harus selalu rukun. Sebenarnya, aku gak ikhlas sih melakukannya. Tapi kita harus pura pura rukun di depan mama. Aku engga IKHLAS!”
“Ok, aku setuju. Tapi, aku enggak mau rukun denganmu. Aku juga enggak ikhlas melakukannya!” balas Naira cemberut. Maira dan Naira pun bilang tidak mau rukun, padahal mereka sudah rukun dengan bekerja sama dalam berpura-pura.
Sesampainya di rumah..
“Aduh untung anak–anak mama selalu rukun, sapa mama ketika Maira dan Naira sampai di rumah.
“Iya, Ma,” jawab Maira dan Naira sambil tersenyum dengan paksa.
“Tapi, anak rukun kok saling teriak saat pelajaran IPA dan dihukum membersihkan toilet?” sindir mama. Maira dan Naira pun kaget.
“Mama tahu dari mana?” Tanya Maira kaget.
“Ehm… dari BU ENDAH. Sekarang kalian mama hukum! Kalian harus mengerjakan seratus soal yang sudah mama buat tadi! Harus benar semua! Kalau ada satu yang salah, kalian harus menyalin seratus soal itu dan menulis jawaban lagi. Maira, Naira Mengerti? Mama beri kalian soal Pendidikan Kewarganegaraan,” jelas mama yang terdengar marah besar.
Maira dan Naira langsung lemas ketika mengetahui soal PKN alias Pendidikan Kewarganegaraa adalah pelajaran yang paling tidak disukai Maira dan Naira. Apalagi, soalnya ada seratus, dan ditambah lagi kalau ada yang salah, mereka harus menyalin lagi semua soal dan jawabannya! Wah, tanganku bisa patah kalau harus mengerjakan seperti itu.. batin Maira dan Naira. Maira dan Naira lebih kaget lagi setelah mengetahui bahwa soal soalnya adalah soal soal untuk anak anak kelas 6 semester dua. Mereka pun menjadi lemas.
Dan malam itu, Maira dan Naira tidur dengan tangan yang terasa patah. Pegeeel banget, deh.. soalnya menulis seratus soal sebanyak lima kali.
Keesokan harinya…
Di sekolah, Maira dan Naira masih juga marahan. Mereka cemberut saja kerjanya. Mereka masih juga berpikir lebih pandai dari saudaranya..
“Begini saja deh ..” kata Kasysha yang mencoba merukunkan hubungan mereja, “kita tes saja siapa yang lebih pintar.!”
“Iya , setuju!” timpal Andi.
Maka, Maira dan Naira pun dites oleh mereka. Pertama–tama, mereka dites matematika. Setelah itu, mereka dites IPA.
“Jadi, siapa yang lebih pintar?” Tanya Naira yang tidak sabar ketika selesai dites.
“Hmmmm.. Matematika, yang lebih tinggi nilainya Maira,” Kata Kaysha mengumumkan. Maira tersenyum sinis kepada Naira.
“IPA, yang lebih tinggi nilainya Naira,” kata Mira mengumumkan.
“Jadi, aku lebih… “
“Kelebihan semua orang berbeda beda, Maira!” kata Dania memotong ucapan Maira.
“Intinya, kalian berdua sama sama pintar. Pintar di bidang yang berbeda,” Ujar Novita.
Maira dan Naira malu sekali. Mereka berdua baru sadar kalau kelebihan tiap orang itu berbeda. Tapi, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Buktinya, Maira dan Naira lemah dalam pelajaran PKN.
Akhirnya, acara Maira vs Naira berhenti. Sekarang, Maira dan Nairasudah berbaikan dan menjadi saudara kembar yang rukun lagi.
— SELESAI —
Cerpen Karangan: Mutia Faradina Ramadhanty
Facebook: Mutia Faradina Ramadhanty
Halo .. :) Namaku Mutia Faradina Ramadhanty
Panggil saja aku Dina / Mutia
Kalo teman – teman mau lebih kenal denganku Add saja fb ku : Mutia Faradina Ramadhanty atau Twitter @Mutia_Faradina
Terima Kasih

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Newer Post Older Post ►